Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2014

Syiah Terlarang di Malaysia

larang syiahAnis Malik Thaha – Insists

Malaysia merdeka sebagai sebuah negara yang menjadikan Islam a la Ahlu Sunnah wal-Jamaah sebagai agama resmi negara. Dengan itu, negara berkepentingan memelihara dan melindungi agama Islam dari segala sesuatu yang berpotensi mengancam kesuciannya. Hal ini kemudian dituangkan dalam berbagai kebijakan dan perundangan resmi negara.
Terkait masalah Syi’ah, awalnya, pemerintah Malaysia tampak kurang memberikan perhatian. Mungkin, karena jumlah dan aktivitasnya yang tidak begitu n mengusik ketenteraman kaum Muslim pada umumnya. Namun dari catatan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) – lembaga resmi yang bertanggung jawab terhadap kemajuan Islam di Malaysia — Syi’ah telah mengalami perkembangan cukup signifikan. Menurut catatan ini, paling tidak di Malaysia terdapat tiga kelompok Syi’ah yang berkembang semenjak beberapa tahun yang lalu:
(1) Syi’ah Taiyibi Bohra. Kelompok ini berasal dari India dan dikenal di Malaysia dengan golongan yang memiliki Kedai Bombay. Kelompok yang berpusat di Lembah Kelang ini mempunyai tanah pekuburan dan masjidnya sendiri dan pengikutnya diperkirakan 200-400-an orang.
(2) Syi’ah Isma’iliyah Agha Khan. Kelompok yang dikenal dengan nama Kedai Peerbhai ini bergerak di sekitar Lembah Kelang juga. Jumlah pengikutnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi bilangannya lebih kecil dari kelompok Bohra.
(3) Syi’ah Ja’fariyah atau Imamiyah Itsna Asyariyah (Imam Dua Belas). Kelompok ini dipercayai mulai bertapak di Malaysia selepas Revolusi Iran tahun 1979. Pengaruh ajaran kelompok ini menular ke berbagai pelosok negara melalui bahan-bahan bacaan dan perorangan, baik yang berkunjung ke Iran atau yang datang dari Iran. Faham ini, kabarnya, semakin berkembang sejalan dengan semakin banyaknya mahasiswa asal Iran yang belajar di Malaysia.
Karena dinilai bertentangan dengan ajaran Ahlu Sunnah wal-Jamaah, pemerintah Malaysia menetapkan serangkaian kebijakan. Diantaranya, Enakmen Pentadbiran Perundangan Islam Negeri Selangor 1989, berkenaan warta pengharaman Syi’ah. Seksyen 31(1) dan Seksyen 32 Enakmen ini menyatakan: “Mana-mana orang Islam adalah dilarang berpegang kepada ajaran-ajaran dan fahaman tersebut (Syi’ah), kerana ia bertentangan dengan pegangan AhliSunnah Wal Jamaah. Larangan ini meliputi: untuk mengajar, mengamalkan berpegang kepada atau menyebarkan ajaran-ajaran atau fahaman-fahaman yang terkandung di dalam ajaran dan fahaman Syi’ah kecuali untuk amalan individu itu sendiri.”
Ketetapan Negeri Selangor itu kemudian disusul dengan warta pengharaman Syi’ah, Seksyen 34 – Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam (Wilayah – Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur), 1993, yang menetapkan bahwa: “Semua umat Islam warga Negara ini (Malaysia) adalah tertakluk kepada undang-undang Islam dan Hukum syarak yang berasaskan pegangan kepada ajaran AhliSunnahWal-Jama’ah sahaja.
Setelah itu, masih disusul lagi dengan Keputusan Jawatan Kuasa (Komite) Fatwa Kebangsaan (Malaysia) pada tahun 1996, tentang pengharaman ajaran-ajaran selain Ahlu Sunnah wal-Jama’ah. Tapi, serangkaian peraturan resmi negara tersebut tidak membuat kaum Syiah di Malaysia menghentikan penyebaran ajarannya. Apalagi, berbagai iklim kebebasan yang dipicu perkembangan politik global, seringkali memaksa Negara-negara Muslim untuk memberikan kebebasan terhadap aliran dan paham apa pun. (lihat: Angel M. Rabasa, U.S. Strategy in the Muslim WorldAfter 9/11(California: RAND, 2004).
Di Malaysia, kaum Syi’ah juga memanfaatkan iklim kebebasan itu untuk menyuarakan dan menyebarkan ajaran-ajaran mereka. Itu bisa dilihat dalam sejumlah penerbitan Syiah di Malaysia, seperti: (i)Meniti Titian Kebenaran (Menyingkap Kebenaran Ilahi); (ii) Inilah Khulafa Ar-Rasyidin; (iii)Akhirnya Ku Temui Kebenaran; (iv) Dialog Mengenai Islam dan Akidah Islam yang Sebenar; dan lain-lain.
Itu juga terlihat dari aktivitas-aktivitas keagamaan kaum Syi’ah, termasuk prosesi Asyura yang cukup menonjol, sehingga pada 2011 yang lalu JAIS (Jabatan Agama Islam Selangor) bersama dengan aparat keamanan PDRM (Polisi Di Raja Malaysia) menggerebek sebuah markaz Syi’ah di Taman Sri Gombak, Selangor, dan menahan semua anggota kelompok ini yang sedang memperingati sebuah hari penting bagi kaum Syiah.
Kasus ini akhirnya berkembang menjadi isu yang cukup serius, sampai Parlemen Malaysia akhirnya pada 9 Maret 2011 memanggil pejabat-pejabat tinggi negara yang terkait, seperti Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, dan Menteri di Jabatan Perdana Menteri untuk memberikan keterangan. Dalam penjelasannya, Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Dato’ Seri Jamil Khir, menyatakan, bahwa tindakan pemerintah terhadap Syiah mengacu pada keputusan Jawatan Kuasa Fatwa Kebangsaan pada 1996 dan undang-undang pengharaman Syiah sebelumnya.
Akhirnya Parlemen Malaysia menyetujui keputusan: (1) Menetapkan bahwa umat Islam di Malaysia hendaklah hanya mengikut ajaran Islam yang berasaskan pegangan Ahlu Sunnah wal- Jamaah dari segi akidah, syariah dan akhlak. (2) Bahwa ajaran Islam yang lain dari pada pegangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah adalah bertentangan dengan Hukum Syara’ dan Undang-Undang Islam. Dengan demikian, penyebaran ajaran yang lain dari pada pegangan Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah dilarang.
Itulah keputusan Malaysia. Wallahu a’lam bil-shawab.

Sabtu, 27 Desember 2014

Syiah Dimata Ibnu Bathuthah

bathutah

Ibnu Bathuthah adalah seorang pengembara Muslim terkenal tidak hanya di dunia Islam tapi juga dikenali oleh dunia barat. Dia lahir di Maghribi pada tahun 1304 M atau 703 H. Namanya sebaris dengan pengembara terkenal lain seperti Marco Polo, Colombus, Laksamana Ceng Ho, dan lainnya.
Dalam bukunya, Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar (Hadiah berharga dari Pengalaman Menyaksikan Negeri-negeri Asing dan Menjalani Perjalanan-perjalanan Ajaib), atau yang dikenali juga dengan Rihlah Ibnu Bathuthah, Ibnu Bathuthah banyak menceritakan perjalanannya ke berbagai negera, tidak terkecuali Nusantara.
Dan di antaranya juga, pengelana Maghrib yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati At-Thanji ini menceritakan tentang keadaan orang-orang syi’ah pada masa itu. Ini kisah yang kami kutip dalam rihlah-nya itu.
Ibnu Bathuthah bercerita,
“…… Kemudian aku meneruskan perjalanan menuju bandar Ma’arrah, sebuah bandar yang dinisbahkan padanya seorang penyair yang bernama Abul Ala Al-Ma’arri. Selain itu, masih banyak lagi nama-nama penyair yang dinisbatkan pada bandar ini.
Ma’arrah adalah sebuah bandar besar nan indah. Pohon tin dan kacang tanah yang banyak tumbuh di sana. Dari sana, hasilnya dipasarkan di Mesir dan Syam. Sejauh satu farsakh (1 farsakh kurang lebih setara dengan 8 km) dari sana, terdapat makam Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Di makam tersebut tidak dijumpai zawiyah (bangunan rumah bagi kaum sufi, khusus ditubuhkan untuk berzikir, solat, dan membaca al-Quran) dan tidak pula ada pembantu yang merawat makam. Mengapa demikian? Kerana di sana terdapat kumpulan orang Rafidhah yang membenci sepuluh sahabat Nabi. Mereka membenci setiap orang yang bernama Umar, terutama Umar bin Abdul Aziz, kerana mereka menghormati Khalifah Ali bin Abi Talib.
Aku berjalan menuju bandar Sarmin, sebuah bandar indah yang penuh dengan kebun buah zaitun. Dari buah zaitun ini dibuat sabun, dan kemudian dijual di Mesir dan Syam. Selain itu, dari bahan yang sama dibuat sabun tangan yang harum, warnanya merah kekuningan. Di bandar Sarmin juga ada membuat baju kapas yang indah.
Penduduk bandar ini adalah para pencela yang membenci sepuluh sahabat Nabi (yang dijamin syurga). Anehnya, mereka tidak mengucapkan kata “Asyarah” (bermaksud: sepuluh) di pasar ketika menawarkan barang dagangannya. Jika hitungan angka mencapai bilangan “Asyarah”, maka mereka akan mengatakan tis’ah wa Waahid (Sembilan tambah satu).
Pada suatu ketika, penguasa Turki datang ke tempat itu dan mendengar para pendagang mengucapkan tis’ah wa Waahid. Penguasa Turki lantas memukul kepala sang pendagang dengan dabus (sejenis klip pakaian). Lalu dia berkata, “Ganti kata Asyarah dengan dabus!”
Di sana terdapat masjid yang berkubah. Mereka tidak menggenapkan jumlah kubah menjadi sepuluh kerana berpegang pada keyakinan yang buruk itu. “(Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Mac 2012, hal 70-71).
Demikian kisah tentang kebencian orang-orang Syiah Rafidhah terhadap para Sahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang dikisahkan oleh Ibnu Bathuthah. Kerana kebencian mereka terhadap para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar, mereka enggan untuk menyebut nama kedua-duanya. Bahkan untuk menyebut angka “Asyarah” (sepuluh) pun mereka tidak mahu. Padahal, di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga itu terdapat nama Ali bin Abi Talib radhiyallahu anhu yang mereka dewakan dan anggap sebagai imam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Abu bakar masuk syurga, Umar masuk syurga, Uthman masuk syurga, Ali masuk syurga, Thalhah masuk syurga, Zubair masuk syurga, Abdul Rahman bin Auf masuk syurga, Sa’ad masuk syurga, Sa’id masuk syurga , Abu Ubaidah bin Jarrah masuk syurga. “(HR. Tirmidzi).
- Perjalanan Ibnu Bathuthah – Pustaka Al Kautsar/DetikIslam

Selasa, 23 Desember 2014

Prof. Buya Hamka: Bukan Penganut Syiah

Saya ingin menambahi ulasan saudara Abdullah tentang Prof Buya Hamka, niatnya agar tidak terjadi kesalah-pahaman tentang beliau. Sebelumnya saya cantumkan artikel beliau tentang ahlul bait yang pernah saya download dari internet beberapa tahun lalu, ulasan beliau di Panji Masyarakat ini banyak juga yang mengutip dan disebarkan online, inilah artikelnya:
H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211 Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal diantaranya tentang keturunan Rasulullah saw.
1. Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Jawaban HAMKA atas pertanyaan diatas sebagai berikut :
2. Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi saw tidak meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thayib dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kulsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kulsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.
3. Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku’ si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah, si cucu duduk ke tingkat pertama tangga mimbar.
4. Al-Tarmidzi merawaikan dari Usamah Bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas ke dua belah paha beliau. Lalu beliau saw berkata, ‘Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan aku sayang kepada keduanya’.
5. Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi saw pernah pula berkata tentang Hasan, ‘Anakku ini adalah Sayyid (tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum muslimin yang berselisih’.
6. Nubuwat beliau saw itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriyah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, karena tidak suka melihat darah kaum muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai ‘Tahun Persatuan’. Pernah pula beliau berkata, ‘Kedua anakku ini adalah Sayyid (tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak’.
7. Barangkali ada yang bertanya : ‘Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husein itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya?. Ini adalah pemakaian bahasa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Di dalam alquran surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa nabi Ya’kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada puteranya Yusuf, sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak. Padahal uang bapak atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayahnya. Di ayat 28 Yusuf berkata, ‘Bapak-bapakku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub’. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapak, dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormati mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum muslimin.
8. Bagi ahlus sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain dipanggilkan orang Sayyid kalau untuk banyak Sadat. Sebab Nabi mengatakan ‘Kedua anakku ini menjadi Sayyid (tuan) dari pemuda-pemuda di syurga’. Di setengah negeri di sebut Syarif, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa, kalau banyak Asyraf. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran-penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.
9. Apatah lagi di dalam alquran, surat ke-33 ‘al-Ahzab’, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya lipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunannya.
10. Menjawab pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah saw? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri, Jamalullail, Assiry, Al-aidid, Al-jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan almarhum Sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw. Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadramaut itu, ada juga yang keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggilkan Tuan Sayyid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Serawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakah NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada sayidina Ali dan Fathimah.
11. Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Ba’alawi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga title sayid di muka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan Alawy atau bukan, dengan pimpinan AR Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘al-Akh’, artinya saudara.
12. Maka baik Habib Tanggul di jawa Timur dan almarhum Habib Ali di Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa al-Muhajir yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu rasulullah Husain bin Ali bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semua kita berlaku hormat dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalahgunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah saw, ‘Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu’. Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu, ‘Hai Fathimah binti Muhammad, beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun’. Dan pernah beliau bersabda, ‘Walaupun anak kandungku sendiri fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya.’
13. Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan Alawy memegang teguh agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam ke dalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat ummat Muhammad kepada mereka.
14. Panji Masyarakat No. 169/Tahun ke XVII, 15 Februari 1975 (4 Shafar 1395 H) hal 37-38.
Dari ulasan beliau, sangat jelas bahwa beliau bukanlah penganut Syiah. Beliau pengikut ahli sunnah wal jamaah yang banyak mengulas tentang kepemimpinan Islam baik jamannya sahabat dan setelahnya. Saya mengenali pemikiran beliau dari karya-karya beliau diantaranya Tafsir Al Azhar 30 Juz, Sedjarah Umat Islam 2, Lembaga Hikmat, Kenangan Hidup, Prof Buya Hamka: Pribadi dan Martabat, Tasawuf Modern, Kenang-kenangan abadi bersama ayahku Hamka dan beberapa karya beliau lainnya. Ulasan-ulasan beliau banyak merujuk pada Hadist, tetapi karya sekitar tahun 60-70 an yang saya kenali dari buku-buku beliau sumber referensi rujukannya tidak dicantumkan sebagaimana serinci seperti saat ini. Beliau hanya membuat list puluhan kitab utama yang menjadi rujukan beliau diantaranya beberapa Kitab Tafsir dan Hadist, termasuk menyampaikan juga bahwa beliau membaca juga puluhan buku karya ulama modern dan karya orientalis barat. Kekayaan kasanah bacaan beliau tercermin dari karya-karya beliau. Beliau mempunyai pengetahuan yang luas tentang sejarah perkembangan Islam dan persoalan umat Islam dari jamannya Rasullullah SAW sampai Islam tiba ditanah air, maka ciri pokok ulasan beliau yang berkaitan dengan persoalan umat Islam adalah selain tinjauan Hadist, tinjauan historis umat Islam beliau sertakan, tidak terlepas pula tinjauan beliau tentang pendapat pen-tarich sejarah dari non muslim untuk mendudukan persoalan secara adil.
Mungkin karena kekayaan khasanah bacaan beliau, pengetahuan sejarahnya yang luas, dan keyakinan beliau pada Allah dan Rasul-Nya, beliau sangat hati-hati ketika menghadapi persoalan umat sebagaimana bisa kita lihat dari artikel diatas. Kehati-hatian beliau mengulas seperti itulah yang saya berani katakan belum ada tandingannya jika dibanding dengan ulama modern Indonesia saat ini. Beliau dengan berdasarkan sumber-sumber hukum (Al Qur’an dan Hadist) dan sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan menunjukkan kesalahan suatu umat secukupnya seperti yang saya cetak dalam beberapa tinta biru diantaranya: “Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran-penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan”. Disatu sisi beliau juga mengingatkan umat ahli sunnah wal jamaah agar perlunya menghormat pada ahlul bait yang menyeru pada kebenaran sebagaimana beliau tulis: “Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin SyahabSeruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat ummat Muhammad kepada mereka”.
Saya melihat beliau berusaha mendudukan persoalan secara adil agar tidak timbul perpecahan antar umat Islam dengan cara menunjukkan suatu kesalahan umat syiah dengan tidak meninggalkan tinjauan hukum pada Al Qur’an dan Sunnah (Hadist) serta dilengkapi dengan asal-usul sejarahnya. Disatu sisi beliau juga mengingat kewajiban umat Islam secara menyeluruh agar menghormati ahlul bait yang menyeru pada jalan tagwa.
Beliau tidak meruncing-runcingkan keadaan, tidak perlu memperlebar dikotomi antara kelompok syiah dan sunni. Cukup kesalahannya saja ditunjukkan berdasarkan hukum dan beliau termasuk yang hati-hati dalam menggunakan lebel “sesat”. Saya sendiri sangat menghormati cara pandang beliau, karena memang kita diperintahkan untuk meluruskan yang salah dengan cara yang adil sebagaimana tercantum dalam Surah Al Hujaraat, ayat 9. Lagi pula Allah-lah yang menguasai rahasia hati manusia dan haq Allah atas memberi hidayah kepada yang dikendaki-Nya sebagaimana diantaranya tercantum dalam Surah Al Hajj, ayat 16: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”, Al Baqoroh, 272, dan Al An’am, 88.
Saat ini cukup banyak yang menyeru pada “kebaikan” untuk mengingatkan umat Islam agar menjadi umat yang rahmatan lil alamin, tetapi sayangnya tinjauan hukum Islam tidak dibahas secara menyeluruh, tinjauan hadist sering ditinggalkan dan bahkan Imam-imam Hadist -pun dijatuhkan. Saya katakan seruan mereka-mereka ini tidak sama dan bahkan bertolak belakang dengan Prof Buya Hamka. Tinjauan mereka lebih mengandalkan pada logika akal mereka yang akhirnya sering dijumpai bertentangan dengan yang disampaikan Rasul-Nya. Padahal sunnah Rasul Muhammad SAW (yang terkumpul dalam Kitab-kitab Al Hadist) adalah juga sumber hukum yang wajib bagi muslim mengingat kedudukan Rasullullah SAW yang dikuatkan dalam Al Qur’an dan beliau wajib ditaati, sebagaimana perintah Allah antara lain dalam Al Anfaal (1), (20) dan (24); Al A’raf (15); Al Hasyr (7); An Nur (54); Ali Imran (31); An Nisaa’ (59) dan (80); Al Ahzaab (36), apalagi dalam Surah Al-Ahzab (21) disampaikan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.  Jika dibaca buku-buku Prof Buya Hamka, beliau bukanlah ulama yang menyelisihi sunnah Rasul-Nya.

Anik K

Sabtu, 20 Desember 2014

Syiah: Bukan Madzhab Kemarin Sore


Oktober 2009, The Pew Research Institute merilis jumlah populasi Muslim di dunia antara yang bermadzhab Sunni dengan yang bermadzhab Syiah. Hasilnya, Pew Research Institute memperkirakan bahwa sekitar 10-13 persen populasi Muslim di dunia ialah bermadzhab Syiah. (Lihat “Mapping The Global Muslim Population, The Pew Research Institute).
Angka tersebut membuktikan bahwa Syiah, meskipun menjadi minoritas, tetap eksis di dunia dan bukan sebagai madzhab kemarin sore walau masih terdengar asing bagi sebagian muslim di Indonesia.
Padahal di Indonesia, khususnya, Syiah telah ada sejak awal masuknya Islam ke bumi khatalustiwa ini. Sejarawan Slamet Muljana, misalnya, berpendapat bahwa Islam yang pertama kali tersebar di Asia Tenggara adalah Islam Syiah, dan bukan Sunni. (Lihat “Mendedah Sejarah Syiah di Nusantara”, Dewa Gilang, Kompasiana).
Pendapat Slamet Muljana ini mendapat dukungan dari A. Hasjmi. Dalam bukunya “Syiah dan Ahlu Sunnah”, A. Hasjmi dengan tegas menyatakan bahwa Islam Syiah-lah yang pertama kali sampai di Indonesia. Bahkan kerajaan Islam pertama di Indonesia-pun, yakni Kerajaan Peurlak, adalah kerajaan yang mermadzhab Syiah, dan bukan Sunni.
Meskipun mendapatkan kritikan tajam, namun hal itu tetap tak bisa menampik keberadaan kaum Syiah dari sejak dahulu di Indonesia. Ini bisa kita lihat dari tradisi-tradisi dan kebudayaan di Tanah Air yang sering disebut-sebut dipengaruhi oleh Syiah.
Di Bengkulu, misalnya, anda akan menemukan pengaruh Syiah dalam tradisi Tabut. Demikian pula pengaruh Syiah tercermin jelas dalam tari Saman di Aceh. Bahkan universitas di Aceh bernama Syiah Kuala.
Sedangkan di Tatar Sunda, pengaruh kental Syiah dirasakan melalui tradisi “bubur Syuro”, yang mewakilkan darah Husain dengan warna merah, dan sucinya ke-syahidan Imam Husain dengan warna putih. Sejarawan Agus Sunyoto bahkan menambahkan tradisi Tahlil dan kenduri di Indonesia sebagai warisan dari tradisi Syiah di Indonesia.
Sehingga sangat tepat jika Alm. Gus Dur pernah berujar bahwa NU adalah Syiah secara kultural. Satu-satunya yang membedakannya adalah paham mengenai Imamah, yang dianut oleh Syiah, tetapi tidak oleh NU. (Meskipun dalam kitab-kitab hadis yang dipelajari oleh santri NU memuat hadis mengenai “imamah”).
Di pesantren tempat penulis menimba ilmu saat ini pun, kitab-kitab yang dikarang oleh penulis ber-madzhab Syiah dipelajari dan dikaji secara mendalam. “Nailul Awthor”, misalnya, dikarang oleh Asy-Syaukani yang diduga bermadzhab Syiah.
Padahal penulis sendiri menimba ilmu di pesantren yang berafiliasi ke NU. Suatu perkara yang membuktikan bahwa Syiah memang telah eksis sedari dulu di Indonesia.
Di kemudian hari, kitab-kitab karya ulama besar Syiah mendapat sambutan hangat dari mayoritas cendekiawan Indonesia. Tafsir “Al-Mizan”, misalnya, kerap menjadi rujukan bagi Quraisy Syihab dalam menulis tafsir fenomenalnya, “Al-Misbah”. Demikian pula dengan karya-karya dari Murthado Muthahari dan Ali Syariati sangat mempengaruhi pola pikir muslim progresif di Tanah Air. Konon, mantan Ketum Muhammadiyah sangat menggandrungi karya-karya dari Ali Syariati.
Sedangkan untuk konteks yang lebih besar, kontribusi Syiah bagi dunia sangat jelas terlihat. Universitas Al-Azhar, misalnya, adalah warisan dari Dinasti Fathimiyyah, yang bercorak Syiah. Al-Azhar -hingga saat in- diakui sebagai universitas Islam tertua sekaligus terkemuka di dunia.
Di luar itu, ada banyak pemikir Islam utama yang dipercaya sebagai penganut madzhab Syiah. Nama-nama seperti Al-Farabi (ahli filsafat), Ibn Sina (kedokteran), Al-Khawarizmi (ahli astronomi), Jabir bin Hayyan (penemu aljabar), dan At-Thusi (penggagas observatorium) adalah contoh dari sekian nama-nama yang turut mengubah peradaban dunia.
Hal-hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Syiah bukanlah madzhab kemarin sore. Dan mungkin karena ini pula, maka MUI dan NU pusat (catat: NU pusat-pen) tak pernah menerbitkan fatwa sesat terhadap Syiah.
Sehingga terkesan aneh dan janggal bila belakangan ada segelintir individu dan kelompok yang entah dari mana tiba-tiba berteriak lantang memprovokasi masyarakat Indonesia dengan isu sesatnya Syiah.
Apakah mereka tak pernah membaca fakta sejarah? Agaknya selama ini mereka terbiasa terkukung dalam kegelapan kejahilan.

Gitu aja koq repot!


Dewa Gilang

Jumat, 19 Desember 2014

Harmoni Syiah - Sunni di Mesjid Nabawi

Syiah dan sunni berdampingan di Mesjid Nabawi
Syiah dan sunni berdampingan di Mesjid Nabawi
Masjid Nabi di Madinah rupanya menyimpan pesan persaudaraan Syiah dan Sunni. Bagaimana tidak, di tengah penghancuran situr-situs sejarah yang masif di Kota Madinah dan di tengah tercabiknya persaudaraan Syiah dan Sunni, sisa-sisa kerukunan dua Madzhab ini masih terpelihara di Mesjid ini dengan baik. Nama 12 Imam Syiah terpampang indah bersanding dengan nama-nama para sahabat dan tabiin. Kaligrafi itu terpahat di bangunan yang dikenal dengan nama bangunan Majidi. yang merupakan ruang terbuka di Mesjid Nabawi (sekarang merupakan tempat payung besar).
Ketika saya duduk bercengkrama di tempat itu, saya sering berusaha membaca nama-nama yang dipahat di dinding mesjid. Ada rasa keingintahuan, siapa dan mengapa nama-nama itu ditempatkan di tempat yang sangat mulia. Beberapa nama sangat akrab, namun beberapa nama tak begitu akrab. ketakjuban saya agak terpatri kepada nama-nama yang merupakan nama-nama Imam Ahlul Bait. Mulai dari Imam Ali hingga Al Mahdi. bahkan pada kaligrafi Imam Mahdi saya diberitahu sebuah keunikan yang membedakan dari kaligrafi lainnya. “Ah bagaimana mungkin Imam-imam Syiah itu namanya terpahat di sini” pikirku. Tapi itulah kenyataannya.
nama imam syiah
nama imam syiah
Dari keberadaan kaligrafi nama sahabat dan Imam-imam syiah di Mesjid itu, saya menangkap kesan dan pesan. kesannya adalah pernah terjadi satu masa di tempat tersuci ummat Islam ini, Islam bisa hidup harmonis dan rukun dalam balutan kecintaan kepada Rasulullah saw.sebab tak mungkin menorehkan pahatan itu, di tempat yang jadi pusat perhatian kaum muslimin jika tidak ada kerukunan pada saat itu.
Dalam kedamaian dan kelembutan cinta sang Rasul pula Syiah dan Sunni larut dan bersatu. Di hadapan Rasul, tak penting lagi jubah golongan, yang penting adalah kemampuan menunjukan amal terbaik yang memberi dapat dan manfaat buat manusia. bukankah Rasul pernah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”. Kalau anda mengaku muslim (sunni atau syiah) tunjukan karya terbaikmu. mungkin itu yang diingini Nabi.
Imam Musa Al Kadzim, Imam ke 7
Imam Musa Al Kadzim, Imam ke 7
Saya mencoba membayangkan Rasul membaca ayat-ayat Al Quran -mungkin berkali-kali- yang mengingatkan kita agar menghindarkan perselisihan “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Ali Imran 103. Atau ayat, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” Ali Imran : 105.
Dan itulah pesan yang saya tangkap. Ketika Rasul dalam keadaan sakit, beliau sering mengucapkan kata “ummatku, ummatku, ummatku”. Mungkin perselisihan ini yang dikhawatirkan Rasulullah saw. Saya membayangkan Rasul menginginkan ummatnya bias bersatu dalam keragaman, dan beragam dalam kesatuan. Menjadi ummatan wahidah, dan akhirnya menjadi ummat terbaik yang bias menjadi ummatan wasatan. Ummat yang menengahi permasalahan dunia. Bukan ummat yang diadu domba.
Imam Al Mahdi, Imam Syiah ke-12
Imam Al Mahdi, Imam Syiah ke-12

Fajr M